RSS

Drama! Impian si Kurang Mampu

23 Mar

Rina berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibunya bekerja sebagai penjual di pasar sedangkan ayahnya sudah lama meninggal. Rina memiliki seorang adik yang bernama Dini. Rina sangat tidak suka dengan kehidupannya yang seperti itu. Ia menginginkan kehidupan yang serba berkecukupan.

Pada suatu hari, di rumah Rina . . . .

Rina : “Bu, di sekolah teman-temanku sudah punya Hp yang canggih semua, masa’ Hpku masih yang kaya’ gini sich.” (Sambil memperlihatkan Hp hitam putih miliknya)

Ibu  : “Sabar saja yah nak. Ibu belum punya uang yang cukup untuk membelikanmu Hp yang baru. Nanti kalau uang ibu sudah cukup, pasti ibu belikan.”

Rina : “Pokoknya Rina nggak mau tahu. Kalau ibu nggak mau membelikan Hp buat Rina, Rina nggak mau sekolah.” (Berlari ke kamarnya sambil kemudian membanting pintu)

Ibu   : “Aduh, gimana nih nak? Ibu nggak punya uang.” (Mengeluh kepada Dini)

Dini  : “Dini ada sedikit uang, bu. Siapa tahu saja bisa membantu.”

Ibu  : “Terima kasih yah nak. Seandainya saja kakakmu bisa sesabar kamu.” (Mengelus pundak Dini)

Dini  : (Tersenyum kepada ibunya)s

 

Keesokan harinya, di sekolah . . . .

Ima  : “Rin, katanya kamu sudah punya Hp yang baru? Mana tuh? Tunjukin dong ke kita.”

Lia    : “Iya, mana Rin?”

Rina : “Iya, udah ada kok, Cuma hari ini belum aku bawa. Besok pasti aku bawa.”

Ima dan Lia : “Janji yah.” (Bersamaan)

 

Setelah pulang sekolah, di rumah Rina . . . .

Rina : “Assalamu alaikum.”

Dini  : “Walaikumsalam. Sudah pulang kak? Memangnya tidak les yah?”

Rina : “Males. Ibu mana?”

Dini  : “Belum pulang kak, masih jualan di pasar. Memangnya ada apa kak?”

Rina : (Tanpa menghiraukan Dini, ia langsung beranjak menuju ke kamarnya)

 

Sore hari, ibu pun pulang dari pasar . . . .

Ibu    : “Assalamu alaikum.”

Dini : “Walaikumsalam. Sini bu, Dini bantu.” (Membantu ibu mengangkat barang-barang bawaannya)

Rina : (Berlari ke arah ibunya) “Bu, mana Hp baru Rina?”

Ibu  : “Maaf nak, ibu belum bisa membelikannya untukmu. Ibu belum mempunyai cukup uang. Hasil penjualan hari ini tidak sebaik biasanya.” (Sambil memperlihatkan uangnya kepada Rina)

Rina : (Menghamburkan uang itu) “Alasan. Ibu memang nggak sayang sama Rina.” (Berlari meninggalkan ibunya yang sedang memunguti uang yang berserakan bersama Dini)

Dini  : “Sabar saja yah bu.”

 

Keesokan harinya . . . .

Dini  : “Bu, Dini berangkat dulu yah.” (Menyalami tangan ibunya) “Assalamu alaikum.”

Ibu  : “Walaikumsalam. Hati-hati yah nak.” (Melihat ke arah Rina) “Kamu nggak ke sekolah nak?”

Rina : “Males.” (Sembari membuka-buka majalah bekas)

Ibu   : “Loh kok begitu sich? Sekolah itu nggak boleh pake’ males-malesan.”

Rina : (Membanting majalah yang sedang di bacanya) “Kan udah Rina bilang, Rina nggak mau ke sekolah kalo Hp yang ibu janjikan belum ada.” (Pergi meninggalkan ibunya)

Ibu   : (Mengelus dadanya) “Kalau begitu ibu ke pasar dulu yah. Kamu jaga rumah baik-baik.”

Rina : (Dari dalam ia tidak menjawab perkataan ibunya)

 

Sore hari, sepulangnya ibu dari pasar . . . .

Ibu   : “Assalamu alaikum.”

Dini : “Walaikumsala. Gimana bu, hari ini banyak yang laku terjual?” (Sambil membantu ibunya mengangkat barang bawaannya)

Ibu   : “Alhamdulillah, lumayanlah walaupun nggak sebanyak kemarin. Oh yah, Rina mana?”

Dini : “Nggak tahu bu. Tadi Dini pulang kak Rina udah nggak ada, mana pintu di biarin nggak terkunci.”

Ibu   : “Ibu bingung harus bagaimana menghadapi kakakmu itu.”

Dini  : “Sudahlah bu, ntar juga baik sendiri.”

Ibu   : “Yah, semoga saja begitu.”

 

Sampai pada keesokan harinya, Rina belum juga pulang. Ibunya sangat khawatir sekali . . . .

Ibu  : “Bagaimana ini nak? Kakakmu belum pulang-pulang juga dari semalam. Ibu takut terjadi apa-apa padanya.” (Cemas)

Dini : (Menenangkan ibunya) “Tenang saja bu, kak Rina tidak akan apa-apa. Ntar Dini akan tanya ke teman-teman sekolahnya, siapa tahu saja kak Rina menginap di rumah temannya.”

Ibu  : “Tolong yah nak, ibu sangat khawatir padanya.”

Dini : “Iya bu. Dini berangkat dulu yah, assalamu alaikum.” (Menyalami tangan ibunya)

Ibu  : “Walaikumsalam.”

 

Sepulang sekolah . . . .

Dini  : “Assalamu alaikum.”

Ibu   : “Walaikumsalam.” (Terdengar suara ibu menyahut dari dalam)

Dini  : “Loh? Ibu nggak jualan?” (Menyalami tangan ibunya)

Ibu   : “Nggak, ibu pusing mikirin kakakmu. Bagaiman? Apa ada kabar dari teman-temannya?”

Dini : “Iya bu. Kak Rina baik-baik saja. Semalam dia nginap di rumah kak Ima. Tadi juga dia sudah masuk sekolah.”

Ibu   : “Syukurlah kalau begitu. Terus mana dia? Kamu nggak ngajak dia pulang bareng kamu?”

Dini  : “Sudah bu, tapi dia nggak mau.”

Ibu   : “Loh? Kenapa?” (Heran)

Dini  : “Katanya dia nggak mau pulang sebelum . . . .” (Terdiam)

Ibu   : “Sebelum apa?”

Dini  : “Sebelum . . . .” (Kembali terdiam)

Ibu   : “Sebelum apa? Ayo, cepat katakan.” (Mendesak Dini)

Dini : (Karena merasa terdesak dan kasihan pada ibunya, akhirnya Dini pun mengatakannya) “Sebelum keinginannya terwujud.”

Ibu   : (Menyelidik) “Hp baru?”

Dini  : (Mengangguk)

Ibu   : (Terdiam)

Dini  : “Terus gimana dong bu?”

Ibu   : “Ibu akan berusaha mendapatkannya untuk Rina. Ibu akan menambah penghasilan.”

Dini  : “Caranya?” (Penasaran)

Ibu   : “Ibu akan bekerja lebih giat lagi.”

 

Mulai hari itu, setiap harinya ibu Rina berjualan dari pagi sampai sore, kemudian sepulangnya dari pasar ia mencuci pakaian orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Karena kasihan melihat ibunya yang setiap hari harus bekerja keras, Dini berniat membantunya.

Dini  : “Bu, Dini bantu yah.”

Ibu   : “Nggak usah nak. Kamu belajar saja.”

Dini  : “Tapi ibu terlihat cape’ sekali.”

Ibu   : “Sudahlah nak. Ibu nggak apa-apa.”

Dini  : “Ya sudahlah kalau begitu. Dini belajar dulu yah.”

 

Sudah seminggu Rina belum pulang ke rumah. Ibunya sangat sedih sekali.

Dini  : “Bu, Dini bantu yah. Besok kan Dini libur.”

Ibu   : (Tersenyum) “Banyak loh, memangnya kamu sanggup?”

Dini : “Oh, jelas. Ibu saja bisa, masa’ Dini nggak. Bu, seandainya saja kak Rina tahu betapa besar pengorbanan ibu, dia pasti akan menyadari betapa besar kesalahannya karena telah terlalu memaksakan kehendaknya.”

Ibu   : (Tersenyum) “Nggak apa-apa kok nak, ibu ikhlas.”

 

Tidak lama kemudian

Dini  : “Bu, ibu nggak apa-apa? Ibu terlihat pucat sekali. Sini, biar Dini yang lanjutin. Ibu istirahat saja.”

Ibu   : “Nggak. Ibu nggak apa-apa kok.”

Dini  : “Tapi ibu kelihatan pucat sekali.” (Bertambah panik)

Ibu   : “Nggak. Ibu nggak . . . .” (Belum sempat ibu menyelesaikan kalimatnya, ia jatuh pingsan)

 

Di rumah sakit . . . .

Ibu   : (Sedikit demi sedikit, ibu sudah mulai membuka matanya) “Din . . . Din . . . .”

Rina : (Panik) “Ibu . . . Ibu nggak apa-apa?  Bu, maafin Rina bu. Rina tahu Rina salah. Rina terlalu memaksakan kehendak Rina pada ibu. Dini sudah menceritakan semuanya. Betapa besar pengorbanan ibu untuk Rina, tapi Rina malah pergi meninggalkan rumah. Rina memang anak yang durhaka.” (Menangis tersedu-sedu)

Ibu  : “Sudahlah nak. Ibu nggak marah kok sama kamu. Maafin ibu juga yah karena ibu belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan.”

Rina : “Nggak apa-apa kok bu. Yang penting ibu sehat. Rina janji mulai sekarang Rina tidak akan lagi memaksakan kehendak Rina.”

 

Ibu dan Dini tersenyum. Kemudian mereka bertiga pun berpelukan.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2011 in Bahasa Indonesia

 

2 responses to “Drama! Impian si Kurang Mampu

  1. sharii

    Agustus 4, 2011 at 7:04 am

    bguzzzz …

     
    • taketora

      Agustus 20, 2011 at 1:59 am

      Terima kasih …..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: