RSS

Libur, Libur, Libur!!!

23 Mar

Dampak negatif tersebut telah menjadi kekhawatiran banyak pakar karena jumlahnya semakin meningkat. Terhadap tingkat kecerdasan anak, libur panjang terbukti mengakibatkan “learning loss”, sedangkan terhadap kesehatan fisik meningkatkan kasus obesitas.

“Libur tlah tiba… libur tlah tiba…. Hore! Hore!”SYAIR lagu yang dipopulerkan penyanyi cilik Tasya beberapa tahun yang lalu ini, tampaknya terus melekat di benak orang setiap kali libur panjang tiba. Walaupun syairnya sederhana, tetapi begitu tepat menggambarkan suasana hati kebanyakan orang,terhadap libur. Libur adalah suatu periode yang di–nanti-nanti karena menyenangkan ketika orang bebas melakukan apa yang diinginkan, lepas dari rutinitas sehari-hari.

Namun, kebebasan itu sering kali diartikan dengan bermalas-malasan sepuasnya, bangun siang, tidur malam, bermain game sepanjang hari, makan sesukanya, terutama bagi anak sekolah. Libur panjang yang seyogianya penting untuk istirahat bagi anak sekolah setelah berbulan-bulan dipadati aktivitas pembelajaran yang pa-1 dat, akhirnya dapat membawa dampak negatif. Dampak negatif tersebut telah menjadi kekhawatiran banyak pakar karena jumlahnya semakin meningkat. Terhadap tingkat kecerdasan anak, libur panjang terbukti mengakibatkan learning loss, sedangkan terhadap kesehatan fisik meningkatkan kasus obesitas.

“Learning loss”

Learning loss adalah berkurangnya kemampuan akademis anak dari yang sebelumnya telah tercapai. Dalam hal ini learning loss disebabkan karena libur panjang. Di negara empat musim yang libur musim panasnya sangat panjang hal ini telah terbukti melalui banyak penelitian. Terdapat pengurangan kemampuan akademis anak sebelum dan sesudah libur yang dinilai dengan menggunakan tes yang terstandardisasi. Pengurangan kemampuan akademis tersebut setara dengan prestasi yang diperoleh dari pembelajaran minimal sebulan lamanya.

Hasil penelitian juga menunjukkan dampak libur panjang tersebut berbeda-beda secara dramatis antarbidang akademis. Learning loss paling nyata pada kemampuan berhitung dan mengeja. Penjelasannya adalah karena kedua bidang ini membutuhkan kemampuan faktual dan prosedural, bukan suatu pemahaman konsep. Sehingga keduanya membutuhkan latihan terus menerus. Sehingga secara psikologi kognitif anak lebih mudah kehilangan kemampuannya dalam dua bidang ini.

Bila dibandingkan, pelajaran matematika juga lebih terpengaruh oleh liburan daripada pelajaran membaca. Penyebabnya karena kesem-patan berlatih membaca biasanya lebih dari kesempatan berlatih matematika selama liburan. Tingkat kecerdasan, jenis kelamin dan etnis sendiri ternyata tidak memengaruhi kejadian /earning toss. Perbedaan baru tampak pada perbedaan tingkat ekonomi keluarga anak, terutama dalam “kemampuan membaca.

Hal tersebut tampaknya berhubungan dgngan kesempatan mendapatkan media pembelajaran selama libur panjang.Penelitian membuktikan bahwa untuk mengejar atau mencapai kembali kemampuan yang hilang akibat libur panjang tersebut, setelah masuk anak-anak harus mendapat proses pembelajaran khusus selama 2-4 minggu. Dengan demikian learning loss ini menjadi suatu dampak negatif yang tidak dapat dianggap remeh.

Mudah dimengerti bahwa learning loss disebabkan karena otak tidak terstimulasi dengan baik selama libur pan- jang. Oleh sebab itu, cara mengatasinya adalah dengan tetap menstimulasi otak selama libur ketimbang membiarkan otak “berkarat”. Para pakar menyarankan berbagai metode antara lain penghapusan libur panjang, pengadaan sekolah khusus liburan dan lain-lain. Namun kiranya tidak tepat juga merenggut waktu libur dan istirahat anak sekolah begitu saja. Stimulasiotak ini harus tetap dilakukan dalam suasana libur yang nyaman, bermain, menyenangkan dan bebas rutinini-tas. Misalnya dengan berkunjung ke museum, kebun binatang, konser musik, dan kemudian menulis jurnal tentang perjalanan tersebut.

Obesitas

Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Seorang anak dikatakan me-ngindap obesitas bila berat badannya lebih dari 120 persen berat badan standar normal. Standar ini dapat dengan mudah didapat di puskesmas atau posyandu terdekat.

Berdasarkan survei yang ada angka kejadian obesitas pada anak di Indonesia, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Khusus pada empat belas kota besar yang pernah diteliti, berkisar 10 – 20 persen anak menderita obesitas. Obesitas pada masa anak berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa dan berpotensi mengalami penyakit metabolik dan penyakit degeneratif seperti kencing manis, hiperten-si, penyakit jantung koroner di kemudian hari. Periode kritis dalam masa tumbuh kembang anak dalam kaitannya dengan obesitas sendiri adalah pada periode pranatal (dalam kandungan), periode usia 6-7 tahun dan periode remaja.

Penyebab obesitas adalah adanya ketidakseimbangan antara asupan energi dan keluaran energi yang disebabkan terutama oleh faktor eksogen atau lingkungan, disebut obesitas primer. Sementara faktor keturunanatau penyakit hormonal sebetulnya hanya sekitar 10 persen. Faktor eksogen ini disebabkan aktivitas fisik yang kurang, sementara asupan makanan berlebih terutama dari lemak yang banyak dikandung junkfood.

Selama sekolah, anak cenderung melakukan aktivitas fisik secara rutin sesuai irama pembelajaran di sekolah. Asupan makanan pun teratur. Sementara saat libur, aktivitas fisik anak menjadi berubah, berkurang, malas, tidak teratur, bahkan di perkotaan sangat mungkin anak menghabiskan waktunya untuk main game terus-menerus. Ditambah pola makan yang jadi sembarangan.

Mengingat hal di atas tidak aneh bila hasil penelitian menunjukkan libur panjang meningkatkan angka obesitas. Padahal libur panjang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan olah raga menarik yang tidak dapat dilakukan selama masa sekolah. Misalnya dengan outbond, berenang di pagi hari, jogging di lintasan olah raga, futsal bersama keluarga dan lain-lain.

Terprogram baik

Untuk mencegah libur panjang memberi dampak negatif bagi anak, orang tua harus memprogramkannya dengan baik. Libur panjang tidak boleh berlalu begitu saja tanpa terencana. Aktivitas otak dan fisik anak harus tetap terstimulasi oleh berbagai kegiatan bermanfaat namun tetap menarik, menyenangkan dan berbed* dari rutinitas sehari-hari. Libur tersebut Hdak harus mahal asal orang tua kreatif dan menyediakan cukup waktu untuk kesempatan khusus ini. (dr. Imas Damayanti, M.Kes., dosen FPOK-UPI)”*

 

Kopas dari:

http://bataviase.co.id/node/271012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2011 in Experience

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: