RSS

Sistem Koloid

23 Mar

SISTEM KOLOID
A. Perbedaan antara Larutan, Koloid, dan Suspensi (Kelompok 1)
1. Larutan
Larutan merupakan campuran yang bersifat homogen. Campuran antara gula dan air termasuk larutan karena pencampuran kedua zat tersebut menghasilkan dua fase yang homogen. Jika larutan ini disaring dengan menggunakan kertas saring, tidak ada zat yang tersaring.
2. Suspensi
Suspense adalah zat padat di dalam air. Zat terdispersi pada suspense merupakan zat padat berukuran cukup besar. Suspense dapat di saring dengan menggunakan kertas saring biasa.
3. Koloid
Untuk memudahkan pembahasan system disperse koloid, digunakan fase terdispersi berupa padatan dan fase pendispersi yang umum yaitu air. Ukuran partikel zat terdispersi dalam koloid lebih besar daripada ukuran partikel di dalam larutan, tetapi lebih kecil daripada ukuran partikel zat terdispersi di dalam suspensi.
Partikel koloid dapat disaring menggunakan suatu kertas saring yang berpori-pori sangat halus (penyaring ultra).

Perbandingan sifat larutan, koloid, dan suspensi

Larutan

(Dispersi molekuler)

Koloid

(Dispersi koloid)

Suspensi

(Dispersi kasar)

Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra Heterogen
Semua partikel berdimensi (panjang, lebar, atau tebal) kurang dari 1 nm Partikel berdimensi antar 1 nm sampai 100 nm Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 nm
Satu fase Dua fase Dua fase
Stabil Pada umumnya stabil Tidak stabil
Tidak dapat disaring Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra Dapat disaring
Contoh: larutan gula, larutan garam, spiritus, alkohol 70%, larutan cuka, air laut, udara yang bersih, dan bensin. Contoh : Sabun, susu, santan, jeli, selai, mentega, dan mayonnaise. Contoh : air sungai yang keruh, dan campuran minyak dengan air.

B. Pengelompokan Koloid (Kelompok 2)

No. Fase

terdispersi

Fase

pendispersi

Nama

koloid

Contoh
1. Padat Gas Aerosol padat Asap (smoke), debu di udara
2. Padat Cair Sol Sol emas, sol belerang, cat, tinta
3. Padat Padat Sol padat Gelas berwarna, intan hitam
4. Cair Gas Aerosol Kabut (fog), dan awan
5. Cair Cair Emulsi Susu, santan, minyak ikan
6. Cair Padat Emulsi padat Jelly, mutiara, opal
7. Gas Cair Buih Buih sabun, krim kocok
8. Gas Padat Buih padat Karet busa, batu apu

C. Pembuatan Koloid (Kelompok 3)
1. Cara Kondensasi
Dengan cara kondensasi partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, seperti:
Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
Hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Reaksi Penggaraman
Garam-garam yang sukar larut dapat dibuat menjadi koloid melalui reaksi pembentukan garam.
Penjenuhan Larutan
Pembuatan kalsium asetat merupakan contoh pembuatan koloid dengan cara penjenuhan larutan jenuh kalsium asetat dalam air. Penjenuhan di lakukan dengan cara menambahkan pelarut alcohol sehingga akan menghasilkan koloid yang berupa gel. Kalsium asetat bersifat mudah larut dalam air, namun sukar larut dalam alcohol.
2. Cara Dispersi
Dengan cara dispersi, partikel kasar diubah menjadi partikel koloid. Cara disperse dapat dilakukan dengan:
Cara Mekanik
Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumpung atau penggiling sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk dengan medium dispersi.
Cara peptisasi
Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah).
Cara Busur Bredig
Cara busur bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai electrode yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik pada kedua ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlempar kedalam air, lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara busur ini merupakan gabungan dari cara disperse dan cara kondensasi.
Cara Homogenisasi
Dengan cara ini, partikel lemak dihaluskan, kemudian didispersikan ke dalam medium air dengan penambahan emulgator. Selanjutnya, emulsi yang terbentuk dimasukkan ke dalam alat homogenizer.

D. Sifat-sifat Koloid (Kelompok 4)
1. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid.
2. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak tidak beraturan, gerak acak atau gerak zig-zag partikel koloid. Gerak Brown terjadi karena benturan tidak teratur partikel koloid dan medium pendispersi. Gerak Brown menunjukkan kebenaran teori kinetik molekul yang menyatakan bahwa molekul-molekul dalam zat cair senantiasa bergerak.
3. Muatan Koloid
Adsorpsi
Adsorpsi adalah kemampuan partikel koloid untuk menyerap ion sehingga ion tersebut menempel ion sehingga ion tersebut menempel pada permukaan partike koloid tersebut sesuai dengan ion yang di adsorpsi.
Elektroforesis
Partikel koloid dapat bergerak di dalam medan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa partikel koloid tersebut bermuatan.pergerakan partikel koloid dalam medan listrik ini di sebut elektroforesis.
Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena kerusakan stabilitas system koloid atau karena penggabungan partikel koloid yang berbeda muatan sehingga membentuk partikel yang lebih besar. Koagulasi dapat terjadi karena pangaruh pemanasan, pendinginan, penambahan elektrolit, pembusukan, pencampuran koloid yang berbeda muatan, atau karena elektroforesis.
4. Dialisis
Dialisis adalah proses penyaringan partikel koloid dari ion-ion yang teradsorpsi sehingga ion-ion tersebut dapat dihilangkan dan zat terdispersi terbebas dari ion-ion yang tidak diinginkan.
5. Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah suatu system koloid yang di tambahkan pada system koloid lainnya agar diperoleh koloid yang stabil.
6. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid Liofil adalah partikel koloid yang menyukai medium pendispersiannya.
Koloid liofob adalah partikel koloid yang tidak menyukai medium pendispersiannya.

 

E. Kegunaan Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari (Kelompok 5)
Sifat Adsorpsi partikel koloid di gunakan pada proses:
a.  Penjernihan Air
b.  Penghilang Kotoran pada Proses Pembuatan Sirup
c.  Proses Menghilangkan Bau Badan
d.  Penggunaan Arang Aktif
Proses koagulasi yang sengaja di lakukan dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
a.  Perebusan Telur
b.  Pembuatan yogurt
c.  Pembuatan Tahu
d.  Pembuatan Lateks
e.  Penjernihan Air Sungai
f.  Pembentukan Delta
g.  Pengolahan Asap atau Debu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2011 in Kimia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: